Category «Puisi»

Balada Terbunuhnya Atmo Karpo

Dengan kuku-kuku besi kuda menebah perut bumi bulan berkhianat gosok-gosokkan tubuhnya         di pucuk-pucuk para mengepit kuat-kuat lutut penunggang perampok         yang diburu surai bau keringat basah, jenawi pun telanjang. Segenap warga desa mengepung hutan itu dalam satu pusaran pulang balik Atmo Karpo mengutuki bulan betina dan nasibnya yang malang berpancaran bunga api, anak panah di bahu …

Doa Seorang Serdadu Sebelum Perang

Tuhanku, Wajah-Mu membayang di kota terbakar dan firman-Mu terguris di atas ribuan kuburan yang dangkal Anak menangis kehilangan bapa Tanah sepi kehilangan lelakinya Bukannya benih yang disebarkan di bumi subur ini tapi bangkai dan wajah mati yang sia-sia Apabila malam turun nanti sempurnalah sudah warna dosa dan mesiu kembali lagi berbicara Waktu itu, Tuhanku, perkenankanlah …

Beri Daku Sumba

Di Uzbekistan, ada padang terbuka dan berdebu aneh, aku jadi ingat pada Umbu Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka Di mana matahari membusur api di atas sana Rinduku pada Sumba adalah rindu peternak perjaka Bilamana peluh dan tenaga tanpa dihitung harga Tanah rumput, topi rumput dan jerami bekas rumput Kleneng genta, ringkik kuda dan …

Surat Cinta

Kutulis surat ini kala hujan gerimis bagai bunyi tambur mainan anak-anak peri dunia yang gaib. Dan angin mendesah mengeluh dan mendesah. Wahai, dik Narti, aku cinta kepadamu! Kutulis surat ini kala langit menangis dan dua ekor belibis bercintaan dalam kolam bagai dua anak nakal jenaka dan manis mengibaskan ekor serta menggetarkan bulu-bulunya. Wahai, dik Narti, …

Sia-sia

Penghabisan kali itu kau datangMembawa kembang berkarangMawar merah dan melati putihDarah dan suci.Kau tebarkan depankuSerta pandang yang memastikan: Untukmu. Sudah itu kita sama termanguSaling bertanya: Apakah ini?Cinta? Keduanya tak mengerti. Sehari itu kita bersama. Tak hampir-menghampiri. Ah! Hatiku yang tak mau memberiMampus kau dikoyak-koyak sepi. Februari,1943[Versi Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus]

Krawang-Bekasi

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasitidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi. Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,terbayang kami maju dan berdegap hati? Kami bicara padamu dalam hening di malam sepiJika dada rasa hampa dan jam dinding yangberdetakKami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.Kenang, kenanglah kami. Kami sudah coba apa yang …

Persetujuan Dengan Bung Karno

Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janjiAku sudah cukup lama dengar bicaramu,dipanggang atas apimu, digarami oleh lautmu Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimuAku sekarang api aku sekarang laut Bung Karno! Kau dan aku satu zat satu uratDi zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayarDi uratmu di uratku …

Diponegoro

Di masa pembangunan inituan hidup kembali Dan bara kagum menjadi api Di depan sekali tuan menantiTak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.Pedang di kanan, keris di kiriBerselempang semangat yang tak bisa mati. MAJU Ini barisan tak bergenderang-berpaluKepercayaan tanda menyerbu. Sekali berartiSudah itu mati. MAJU Bagimu negeriMenyediakan api Punah di atas menghambaBinasa di atas ditinda Sungguhpun dalam …

Aku Tulis Pamplet Ini

Aku tulis pamplet inikarena lembaga pendapat umumditutupi jaring labah-labahOrang-orang bicara dalam kasak-kusuk,dan ungkapan diri ditekanmenjadi peng – iya – anApa yang terpegang hari inibisa luput besok pagiKetidakpastian merajalela.Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-tekimenjadi marabahayamenjadi isi kebon binatang Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi,maka hidup akan menjadi sayur tanpa garamLembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan.Tidak …

Leiden 3/10/78 (PAGI)

di kamar penginapanyang dindingnya belum selesai di kapurtubuhku lelahtetap tersalib di papan pembaringannasib masih terkapar di luar pintuyang tak selalu tertutupudara kelamtenggelam dalam kabut kenanganhanya kata-katamenolong dari kekalutan setiap berhentiangan terganggu wajah kosong mengerikanpesan rahasiatergesa terhapus dari ingatandi sela-sela kataterus membersit kegetiran di balik dalih bicaraluka di dada menganga (dalam buku Hari dan Hara, 1982)