Pemikiran Sanusi Pane Dalam Menumbuhkan Kesadaran Nasional Dan Kebudayaan Nasional Indonesia 1930-1942

Kesadaran sebuah bangsa yang merdeka memicu semangat baru yang memunculkan pemikiran-pemikiran akan pentingnya sebuah kebebasan bernegara dan berbangsa. Nasionalisme atau kesadaran nasional adalah manifestasi kesadaran bernegara atau semangat bernegara. Kesadaran nasional tidak timbul begitu saja. Kesadaran nasional atau manifestasi nasionalisme nyata terlihat ketika melawan kolonialisme pada zaman penjajahan.

Melalui kesusastraan bangsa Indonesia menumbuhkan kesadaran nasional dengan cara yang berbeda. Pemikiran-pemikiran tersebut dituangkan kedalam karya-karya sastra yang dihasilkan. Pemikiran kesadaran nasional dan kebudayaan nasional yang fenomenal salah satunya ialah pemikiran Sanusi Pane. Sastrawan angkatan pujangga baru ini memandang bahwa kebudayaan Timur khususnya kebudayaan Indonesia memiliki kebudayaan yang khas, namun kekhasan budaya Indonesia tergeser oleh adanya kebudayaan barat yang menjangkit dalam tubuh masyarakat Indonesia.

Suatu negara pasti memiliki kebudayaannya sendiri. Seperti Indonesia yang memiliki kebudayaan yang beraneka ragam. Keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia harus dipandang sebagai sebuah kekayaan dan petunjuk bahwa Indonesia tidak memiliki budaya yang tunggal bukan berarti tidak memiliki jati diri, namun dengan keanekaragaman budaya yang ada membuktikan bahwa masyarakat Indonesia memiliki kualitas budaya yang luar biasa. Pemikiran Sanusi Pane yang tertuang dalam setiap karya-karya sastranya inilah yang menunjukkan bahwa Sanusi Pane telah berusaha membangun kesadaran nasional melalui karya-karya sastranya tersebut.

Artikel ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari empat tahap, yakni heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Pada tahap heuristik, penulis melakukan pengelolaan data yang berupa karya-karya sastra Sanusi Pane yang terdiri dari Madah Kelana (kumpulan sajak, cetakan ke dua 1957) yang diterbitkan oleh Balai Pustaka (cetakan pertama tahun 1931), Kertadjaja (naskah drama, cetakan ke dua 1971), Sandhyakalaning Majapahit, Manusia Baru, Sejarah Indonesia Jilid I dan II, surat kabar Kompas tertanggal sabtu 6 Djanuari 1968 hlm 1 dan 3, majalah Djawa Baroe “Mengembalikan Keboedajaan Timoer” tahun 1941 hlm. 9, artikel Kewajiban Kita karangan Sanusi Pane hlm. 8 dan 12.

Selanjutnya penulis melakukan melakukan pengumpulan semua sumber dan melakukan validasi terhadap sumber yang berkaitan dengan pemikiran Sanusi Pane mengenai kesadaran nasional dan kebudayaan nasional. Sumber-sumber tersebut dikategorikan berdasarkan pokok bahasan masing-masing untuk mempermudah penulis menemukan fakta.

Penulis menghubungkan keterkaitan fakta yang ditemukan di berbagai sumber, baik primer maupun sekunder yang telah diperoleh. Kegiatan ini berakhir dengan terjawabnya semua rumusan masalah, yang kemudian dilanjutkan ke tahap selanjutnya.

Pada tahap terakhir penulis menyajikan fakta-fakta yang telah diperoleh secara sistematis, fokus dan sesuai dengan aturan penulisan artikel sehingga memudahkan bagi pembaca untuk memahami tulisan ini.

Kesadaran Nasional dalam Kesusastraan

Ungkapan cinta tanah air dapat diwujudkan dengan berbagai macam cara. Baik dengan jalan kekerasan seperti peperangan, maupun dengan jalan perdamaian. Jauh sebelum Indonesia dijajah oleh bangsa asing. Cinta tanah air sudah mulai tampak dalam masyarakat Indonesia. Rasa cinta tanah air tersebut diwujudkan secara sederhana yang mendorong terwujudnya kesadaran nasional.

Kesusastraan Indonesia tumbuh mewarnai momentum sejarah sastra Indonesia. Seiring itu muncul sastrawan-sastrawan unggul. Pemikirannya mengenai kesadaran nasional tersirat di dalam karya-karya sastra mereka. Jauh sebelum tahun berdirinya gagasan Pujangga Baru, pemikiran kesadaran nasional telah ada dan tumbuh pada Angkatan sebelum Pujangga Baru, yakni Angkatan Balai Pustaka.
Dimulai dari para sastrawan yang sudah terlebih dahulu muncul sejaman dengan Balai Pustaka seperti, Moh. Yamin yang tergolong pada angkatan Pujangga Baru. Moh. Yamin merupakan sastrawan yang menitikberatkan perhatiannya kepada puisi seperti dalam sajaknya yang berjudul Tanah Air.

Diatas batasan Bukit Barisan
Memandang beta ke bawah memandang
Tampaklah hutan rimba dan ngarai
Lagipun sawah, telaga nan permai
Serta gerangan lihatlah pula
Langit yang hijau bertukar warna
Oleh pucuk daun kelapa.

Sajak yang berjudul Tanah Air diatas, termuat didalam majalah Jong Sumatra tahun 1921. Tanah air yang dimaksud ialah Sumatra. Sumatralah yang menjadi sanjungan. Namun, dalam salah satu sajaknya tersebut, kesadaran nasional (nasionalisme) begitu tampak, meski masih bersifat kedaerahan. Sifat sajak yang berjudul Tanah Air bertemakan cinta dan pujaan terhadap tanah air dan bangsa sebagai sesuatu yang belum terjadi sebelumnya dalam sastra Melayu.

Tokoh penyair kedua sesudah Moh. Yamin yang juga mempunyai keasadaran besar dan berjuang untuk kemerdekaan bangsanya ialah Rustam Effendi. Rustam Effendi menulis dua buku. Buku pertama berjudul Bebasari. Bebasari menceritakan tentang perjungan seorang pemuda yang berjuang untuk membebaskan kekasihnya dari belenggu keserakahan raksasa. Drama tersebut merupakan lambang dari citacita Rustam Effendi untuk bebas. Kekasih yang digambarkan dalam drama tersebut merupakan tanah airnya yang telah dibelenggu penjajah. Buku kedua berjudul Percikan Permenungan, merupakan kumpulan sajak, dan tokoh ketiga pemula puisi ialah Sanusi Pane.

Muhammad Yamin, Rustam Effendi dan Sanusi Pane minatnya terhadap sastra mengungkapkan kesadaran nasionalnya. Karya-karyanya yang pertama diumumkan, yang berupa tiga buah sajak tentang idealism nasionalis yang dimuat dalam laporan kongres Indonesia Muda.

Pemikiran Romantik Sanusi Pane dalam Karyanya

Peran Sanusi Pane dalam perkembangan sastra di Indonesia tidak dapat dipungkiri lagi. Tampaknya aliran pikiran Hindu menyatu dalam diri Sanusi Pane. Orang Hindu beranggapan bahwa dunia ini adalah maya, kosong belaka. Untuk apa orang harus berlomba-lomba menguasai dunia yang sebenarnya hanya semu belaka. Mereka beranggapan bahwa ruh manusia di dunia ini diciptakan dari ruh dunia, ruh yang universal. Dia akan meresap kembali dengan ruh dunia itu. Di sanalah kebahagiaan itu akan dicapai manusia jika ia berhasil memisahkan diri dengan hal-hal yang bersifat materi.

Pemikiran Sanusi Pane yang lebih mengutamakan ketenangan dan kedamaian itu tampaknya terjelma pada hampir semua hasil karyanya, baik yang berupa puisi maupun drama. Itulah sebabnya Sanusi dikenal sebagai pengarang romantik. Sanusi merenungi kejayaan dan kemegahan serta kedamaian masa lampau. Sanusi merenungi kedamaian yang didendangkan alam sekitar. Alam tidak hanya sebagai lambang, tetapi juga sebagai objek penggubahan sajak-sajaknya yang mendendangkan alam misalnya, Sawah, Teja, Menumbuk Padi. Seperti yang terangkum dalam kumpulan sajaknya Puspa Mega.

Air mantjur djatuh kuat keras,
Berdebar deru ke atas batu,
Bersimbah buih putih selalu,

Keras desar, bersorak berseru,
Mendesah desing, berdengung deruh
Air mengalir membawa batu,
Menggulung-gulung dengan gemuruh.

Gemuruh guntur ditengah rimba,
Membuat terang hening tenang
Didalam hutan bertambah terang

Didekatnya berat dasar jiwa
Dibuatnya hati rindu dendam
Tapi tujuan hanya kelam.

(Sanusi Pane, Air Mantjur)

Sanusi Pane melihat alam dengan penuh gembira. Alam yang merupakan sumber yang tak kering-keringnya untuk dinikmati secara terus-menerus. Terkadang jiwa Sanusi Pane mengembara jauh ke masa silam, Sanusi mendambakan kejayaan masa lampau yang gemilang. Ia mencari ke zaman Indonesia purba dan ke arah Nirwana kebudayaan Hindu. Tidak hanya itu, Sanusi pane berpendapat bahwa keindonesiaan itu sudah ada sejak sekian abad yang silam dalam adat dan seni. Yang belum terbentuk adalah natie atau bangsa Indonesia, tetapi perasaan kebangsaan itu sebenarnya sudah ada.

Paham romantik masih tetap mengalir dalam jiwa Sanusi Pane. Dalam buku kumpulan sajaknya yang kedua berjudul Madah Kelana, jiwa keromantikan itu masih tetap mewarnainya. Banyak jumpai sajak-sajak percintaan yang cukup romantis, Angin, Rindu, Bagi kekasih, Kemuning, dan Bercinta. Sajak yang terbesar yang terdapat dalam Madah Kelana yakni Syiwa Nataraja adalah sajak yang melukiskan keinginan pengarang untuk bersatu dalam alam. Tampaknya ketika Sanusi Pane menciptakan sajak ini dia mengeluarkan segala kekuatannya sehingga menghasilkan sajak yang sebesar itu. Di samping itu, masih banyak lagi dijumpai sajaksajaknya yang senafas dengan itu. Misalnya Awan, Penyanyi. Pagi, Damai, dan Bersila. Hal ini membuktikan keyakinan Sanusi Pane bahwa manusia harus bersatu dengan alam. Hal ini masih tetap mewarnai karya-kanya puisinya yang terkumpul dalam Madah Kelana ini.

Sanusi Pane di samping sebagai penyair juga sebagai penulis drama. Sebagai penulis drama dia adalah penulis terbesar pada masa sebelum perang, sebagaimana telah diuraikan di atas. Dia telah menulis dua drama dalam bahasa Belanda yang berjudul Air Langga dan Enzame Garoedavlucht dan tiga buah dramanya dalam bahasa Indonesia yang berjudul Kertajaya, Sandyakala Ning Majapahit serta Manusia Baru.

Drama Sanusi Pane yang berjudul Kertajaya merupakan cerita tragedi yang mengingatkan pada cerita Romeo and Juliet karya pujangga Inggris Shakespeare. Dalam kesusastraan Jawa dijumpai tragedi semacam itu pula yakni cerita Pranacitra dan Roro Mendut, di Bali juga dijumpai cerita Jayaprana dan Layonsari. Drama itu ditutup dengan matinya dua tokoh utama, Dandang Gendis (Kertajaya) dan Dewi Amisani dengan cara bunuh diri. Suatu penyelesaian yang sangat berbeda kalau dibandingkan dengan fakta sejarah. Memang, ada pula perbedaan fakta yang dikemukakan oleh ahli sejarah tentang nasib Kertajaya sebagai raja Kediri. Stutterheim, misalnya, menyatakan bahwa Kertajaya pergi mengasingkan diri sebagai petapa. Lain halnya dengan Krom, dia mengatakan, setelah Kertajaya kalah dalam pertempuran di Garner dia hilang, tidak jelas ke mana, mungkin mati atau melarikan diri.

Sastrawan mempunyai kebebasan dalam menafsirkan suatu peristiwa. Sastrawan bukan pencatat peristiwa-peristiwa sejarah. Sebagaimana sastrawan Sanusi Pane memberi tafsiran yang berbeda dengan kedua ahli sejarah di atas. Dia memilih jalan sendiri untuk mengakhiri cerita itu dengan mematikan tokoh utamanya. Kedua tokoh utama dalam cerita itu mati dengan cara bunuh diri. Apa yang diceritakan oleh Sanusi Pane dapat dimaklumi karena Sanusi Pane adalah pengarang yang berjiwa romantik. Fantasi romantiknya yang mendorong pengarang untuk mengakhiri ceritanya dengan tetesan air mata.
Adegan pertama dalam drama Sanusi Pane yang berjudul Kertajaya sudah menunjukkan kekhasan Sanusi sebagai pengarang romantik. Dialog-dialog antara kedua tokoh utama cerita itu merupakan wujud lahir jiwa romantik sang pengarang. Pengambilan latar di lereng gunung Wilis, dihiasi kicauan burung, suara angin yang berhembus, ayam yang berkokok sangat mendukung suasana romantis yang diingini pengarang. Dari jawaban Dandang Gendis (Kertajaya) atas pertanyaan Dewi Amisani itu diketahui bahwa lukisan tentang cinta seperti itu terlalu dilebih-lebihkan pengarang. Orang bersusah payah mencari nirwana melalui buku atau guru yang sampai mati pun sering tidak menemukannya. Akan tetapi, Dandang Gendis menemukan nirwana itu di mata kekasihnya, Dewi Amisani. Dandang Gendis menyamakan nirwana dengan kekasihnya. Meskipun drama itu ditulis tahun 1938 (drama ini dimuat pertama kali pada majalah Poedjangga Baroe, tahun VI, No. 3, bulan Desember 1938) lukisan semacam itu tetap terasa berlebihan. Hal ini justru membuktikan pengaruh romantik sangat kuat dalam diri Sanusi Pane.

Dorongan hati untuk menciptakan cerita yang mengharukan, yang dapat mencucurkan air mata bagi pembaca atau penonton masih terlihat dalam drama Sanusi Pane yang berjudul Sandyakala Ning Majapahit. Akhir cerita drama ini lain sama sekali dengan buku yang dijadikan dasar pembuatan cerita itu yakni Serat Damarwulan. Sanusi Pane mengatakan bahwa sebagai dasar pembuatan drama Sandyakala Ning Majapahit adalah Serat Damarwulan dan cerita Raden Gajah yang terdapat dalam Pararaton.

Cerita Damar Wulan diakhiri dengan happy ending. Keberhasilan Damar Wulan membawa kepala Menak Jingga ke Majapahit menyebabkan dia menduduki tahta kerajaan serta dinikahkan dengan sang ratu. Damar Wulan bergelar Prabu Brawijaya serta hidup dengan kejayaannya. Sebaliknya, Sandyakala Ning Majapahit diakhiri dengan peristiwa yang tragis. Di samping Damar Wulan tidak dinikahkan dengan ratu Majapahit dia juga dituduh sebagai pengkhianat. Tuduhan itu begitu hebatnya sehingga hukuman mati bagi Damar Wulan tak terelakkan lagi. Sepeninggal Damar Wulan kerajaan Majapahit diporak-porandakan balatentara dari kerajaan Bintara.

Drama Sanusi Pane yang terakhir berjudul Manusia Baru. Drama ini dibuat pertama kali dalam majalah Poedjangga Baroe, tahun VIII, No. 5. November 1940. Tujuh tahun setelah dramanya yang berjudul Sandhyakala Ning Majapahit, Sanusi Pane menghasilkan dramanya Manusia Baru itu. Masa kurang lebih tujuh tahun sudah cukup bagi Sanusi Pane untuk menghasilkan ide-ide baru yang berbeda dengan ide-ide yang dituangkannya dalam puisi maupun drama sebelumnya. Dalam kurun waktu itu pula Sanusi Pane berhasil mengungkapkan konsep “manusia baru”nya. Manusia yang dapat mencapai kebahagiaan lahir batin, kebahagiaan dunia akhirat atau “insan kamil”.

Manusia semacam itu, menurut Sanusi Pane, tidak hanya mementingkan hal-hal yang bersifat rohani belaka. Dunia tidak lagi dianggap “jahat” yang perlu dijauhi dan dihindari, sebab menghindari dunia, hidup tidak bisa dipertahankan. Manusia hidup pada zaman modern ini harus bekerja keras dan mau menaklukkan dunia seperti tokoh Faust ciptaan Gothe. Akan tetapi, manusia modern harus tetap memiliki budi yang luhur, religius, dan cinta sesama manusia sebagaimana dimiliki oleh Arjuna ciptaan Empu Kanwa. Jika manusia belum dapat memadukan dua pribadi itu dalam dirinya dia bukan manusia modern yang diidealkan Sanusi Pane.

Faust ialah seorang yang pandai bergaul. Dia ahli dalam segala bidang ilmu pengetahuan. Akan tetapi, Faust belum puas dengan pengalaman dan pengetahuannya. Faust ingin mengetahui rahasia kehidupan sampai pada dasarnya. Sanusi Pane melihat Arjuna sebagai satu tokoh yang saleh, yang tunduk pada agama. Lebih mengutamakan rohani dan cinta sesama manusia Timur yang menganggap tujuan manusia adalah melepaskan jiwanya daripada ikatan pancaindra atau ikatan keinginan.

Sanusi Pane berpendapat bahwa hanya persatuan kebudayaan Timur dan Barat, serta persatuan Arjuna dan Faust yang dapat menyelamatkan dunia dan hanya manusia yang menyatukan asas Faust itulah yang sanggup mencapai kebahagiaan yang sempurna. Di dalam Manusia Baru yang merupakan karangan drama terakhirnya, Sanusi Pane tidak lagi tenggelam ke dalam kejayaan dan kemegahan pada masa silam. Dia tidak lagi mengagungkan apa yang telah dicapai oleh nenek moyang sementara dirinya tidak berprestasi. Hal ini bukan berarti mengabaikan dan tidak mencintai karya agung warisan leluhur bangsa Indonesia yang lama tetap agung dan berharga. Akan tetapi, manusia sekarang harus hidup pada masa sekarang serta mampu memandang kehidupan jauh ke depan. Dari yang lama manusia sekarang dapat mengambil manfaatnya selama dapat dimanfaatkan. Manusia sekarang harus pandai menyaring pengaruh-pengaruh dari warisan lama termasuk budaya dari asing. Inilah “Manusia baru” yang diidealkan oleh Sanusi Pane dalam dramanya yang berjudul Manusia Baru. Tokoh Rama atau Rama Rao adalah simbol seniman pada umumnya masih terpesona keagungan masa silam. Dia berhasil disadarkan oleh Das atau Surendranath Das untuk bangkit sebagai manusia baru, seniman baru yang harus hidup penuh semangat memandang jauh ke masa depan. Surendranath Das adalah seorang pemimpin kaum buruh yang hendak mempertinggi kedudukan kaum buruh, ia datang ke Madras, karena disitu terjadi perselisihan antara kaum majikan dan kaum buruh pabrik tenun.

Ide manusia yang ditampilkan Sanusi Pane dalam drama ini mencakup pula emansipasi wanita. Emansipasi ini tampak pada akhir ceritanya. Tokoh Saraswati atau Saraswati Wadia anak ketua Perkumpulan Industri Tenun Madras bangkit dari kungkungan adat lama. Adat lama mengatur bahwa anak gadis harus ditunangkan sejak kecil. Demikian juga Saraswati, dia ditunangkan sejak masih balita, sejak masih berumur empat tahun, peristiwa yang sama sekali tidak dikehendaki oleh Saraswati. Dia tidak mau hidup bagaikan dalam sangkar, sebentar dilepaskan kemudian dimasukkan kembali. Dia memberontak semua itu. Pertemuan antara Saraswati dengan seorang penganjur pemogokan kaum buruh. Awalnya Saraswati mempunyai anggapan yang rendah terhadap Surendranath Das. Saraswati menyangka Surendranath Das seorang yang hanya memikirkan kepentingan diri sendiri saja, seorang yang tak sanggup berusaha sendiri dan suka dendam dengan orang lebih baik kedudukannya. Namun setelah Saraswati mengenal Surendranath Das lebih dekat, Saraswati mengetahui bahwa Surendranath Das sebenarnya seorang yang tinggi budinya, suka berkorban untuk kaum rendah. Saraswati jua mengetahui bahwa Das sebenarnya bukan benci kepada kebudayaan India lama. Sebenarnya Das menggemari kesusastraan lama, tetapi ia tidak ingin orang sekarang mengarang seperti orang dahulu kala.

Surendranath Das, menyadarkan jiwanya untuk ikut bangkit sebagai manusia baru. Saraswati mengagumi watak dan pemikiran Surendranath Das. Bahkan, dia mencintai Das dan harus meninggalkan tunangan lamanya. Sudah barang tentu keluarganya tidak menyetujui hubungan itu, karena dalam peristiwa pemogokan kaum buruh itu Das adalah musuh keluarga Saraswati. Ketika Das akan pergi meninggalkan Madras, Saraswati bertekad akan tetap mengikuti ke mana Das pergi. Dia meninggalkan adat lama, dia meninggalkan keluarga, ayah dan ibunya tersayang. Dia melakukan semua itu demi cintanya kepada Das, demi kemajuan bangsanya, demi kemajuan manusia, manusia baru.

”Saya melihat India bersatu sesungguhnya, saya melihat rakyat India berbahagia, tani, buruh, modal, kaum terpelajar bekerja bersama-sama dalam masyarakat baru. India yang bergerak, yang hidup, yang subur, India Manusia Baru”.

Dari keseluruhan karyanya dapat disimpulkan bahwa Sanusi Pane tidak hanya menganut satu aliran. Karya-karyanya, sebelum Manusia Baru, terwarnai aliran romantik yang sangat kuat. Dramanya yang berjudul Manusia Baru ini sudah mencerminkan sifat realistis pengarang. Pengarang benar-benar telah menemukan dirinya sebagai manusia baru, yang harus hidup pada masa sekarang. Untuk menemukan manusia baru itu diperlukan perenungan yang cukup panjang. Hal ini tercermin pada esai tentang Timur dan Barat sebagai berikut.

“Pengembaraan kami dalam berbagai-bagai kebudayaan membentuk semangat yang tertentu dalam diri kami. Semangat itu minta bahasa dan kesusastraan baru untuk wujudnya… Bukan, bukan kami gila “Barat” dan benci “Timur”! tidak sekali-kali kami semata-mata hendak mengubah oleh karena gila mengubah ! dan jauh beribu-ribu kali jauh kami menghendaki yang baru, semata-mata oleh hendak yang baru dan tak hendak menghargai yang lama !”.

Pemikiran Sanusi Pane Mengenai Kesadaran Nasional

Sanusi pane menuangkan perasaannya dan pemikirannya tentang Indonesia dalam berbagai bentuk yakni berupa Puisi, naskah drama dan tulisan esei yang dimuat di majalah. Meskipun Sanusi Pane banyak menulis sajak-sajak pelukisan alam, sajak-sajak duka dan gembira, namun kesadaran nasional terdapat juga di kumpulan sajaknya yang pertama yakni Puspa Mega.

Kesadaran nasional (nasionalisme) atau faham kebangsaan yang ditunjukkan oleh Sanusi Pane terlihat juga dalam puisinya sebagai berikut :

Terdengar suara kepada kami, Melayang diatas gempar dunia :
“Percaya datang zamannya nanti Kaum marhaen jadi mulia.
Akan sama pembahagi harta, Orang semua mendapat nasi,
Sehingga bumi jadi perbantahan lagi.”

Kami bersorak gegap gempita
Merasa diri kuat kembali
Mata bercaya : intan juwita
Bagai memandang tanah dicari.
Semenjak itu kami berjuang
Penuh harapan, gagah berani.
Biar terlempar ke dalam jurang
Teringat juga sumpah yang sakti

(Sanusi Pane, Sumpah Sakti, 1933)

Sumpah Sakti merupakan derum hati manusia yang melihat cahaya kepastian. Dalam sajak Sumpah Sakti di atas termaktub lagu perjuangan yang menunjukkan kekuatan batin dan semangat nasionalisme yang menggelora. Ada juga sajak lain Sanusi Pane setelah Madah Kelana yang bernafaskaan kebangsaan yang berjudul Bertemu.

Ditepi pantai laut kami bersua
Dan kami memandang kedalam mata masing-masing
Jang penuh sengsara, penuh duka
Karena negeri digenggam bangsa asing

(Bertemu, teks B, 2 I-III)

Sajak Sanusi Pane mempunyai pribadi sendiri, mempunyai ke-Indonesiaannya dan mempunyai bentuk tersendiri. Didalam kumpulan sajak Madah Kalana, juga dijumpai sajak-sajak kebangsaan. Kesadaran nasional bagi Sanusi Pane datang dalam berbagai rupa, ada yang bersifat kenangan kepada masa silam. Ada juga yang diperuntukkan kepada orang yang berjuang untuk bangsanya. Sajak ini berjudul Teratai, yang diperuntukkan kepada Ki Hajar Dewantara, salah satu pelopor kemerdekaan dan seorang yang banyak berjuang dilapangan pendidikan untuk menaikkan derajat bangsa.

TERATAI

Dalam kebun di tanah airku
Tumbuh sekuntum bunga teratai;
Tersembunyi kembang indah permai.
Tidak terlihat orang yng lalu.
Akarnya tumbuh di hati dunia
Daun berseri Laksmi mengarang. Biarpun ia diabaikan orang,
Seroja kembang gemilang mulia.
Teruslah, o Teratai Bahagia Berseri di kebun Indonesia Biar sedikit penjaga taman.
Biarpun engkau tidak dilihat Biarpun engkau tidak diminat,
Engkau pun turut menjaga Zaman.

(Sanusi Pane, Teratai)

Penggunaan lambang teratai yang digunakan Sanusi Pane merupakan penghormatan Sanusi Pane terhadap Ki Hajar Dewantara yakni kepada pejuang nasional. Ada pula sajak-sajak Sanusi Pane yang terangkum dalam Madah Kelana yang bernafaskan nasionalisme. Adapun sajak-sajak tersebut ialah Majapahit, Rindu Dendam dan Bimbang. Pandangan Sanusi Pane dalam sajak-sajak tersebut jauh dari alam sekitarnya menembus ke masa yang telah silam yakni ke zaman kejayaan tanah airnya. Sanusi Pane mencoba menumbuhkan cinta tanah air melalui kenangan kepada sejarah di masa lalu. Dengan cara demikian Sanusi Pane menyadarkan bangsa Indonesia untuk mencintai tanah airnya, menumbuhkan kesadaran nasional, dan agar selalu mengingatkan kita akan sifat-sifat kaum romantic di Eropa yang selalu terkenang kepada sejarah bangsanya di masa silam.

Unsur-unsur nasionalisme yang dimiliki oleh Sanusi Pane juga tersirat dalam artikelnya yang termuat dalam majalah Djawa Baroe. yang berjudul Mengembalikan Keboedajaan Timoer. Tulisan ini berisikan mengenai himbauan Sanusi Pane agar bangsa Indonesia kembali kepada kebudayaan timur dan jangan mau lagi diperbudak oleh imperialisme barat (Belanda). 21Imperialisme yang dibawa oleh bangsa Belanda telah memporak-porandakan kebudayaan asli bangsa timur khususnya Indonesia yakni kebudayaan tolong-menolong dan bergotong royong yang pada masa itu telah pudar.

Asas gotong royong harus ditumbuhkan kembali di desa-desa yang dahulu merupakan ciri khas dari kebudayaan timur. Agar tercapai kemakmuran dan ketentraman seperti pada masa lampau. Sikap kebaratbaratan dapat sangat jelas dilihat pada sikap kaum pelajar. Sikap tersebut dapat membuat Indonesia jauh dari rakyat dan dari bangsanya sendiri, dikarenakan Pemerintahan Belanda bersih kukuh dalam menipu muslihat baik dari segi pembelajaran, aturan gaji, dan sebagainya, maka dari itu mengembalikan kebudayaan Timur di Indonesia merupakan kewajiban yang sangat penting untuk membebaskan keterbelengguan Imperialisme barat di ranah Timur Indonesia. Seperti yang tertulis dalam esei:

“Salah satoe asas keboedajaan kita jang terpenting ialah tolong menolong atau gotong royong… kita harus kembali kedasar asli, dasar Indonesia dan Timoer. keIndonesiaan dan ke –Timoeran haroes memantjar lagi dalam masjarakat dan kesenian kita, sehingga kita dapat makmoer sebagai doeloe lahir dan batin. Hanja dengan demikian poela kita sanggoep berdiri dalam taufan hebat jang bermaeadjalela sekarang diseloeroeh doenia. Hanja dengan demikian kita dapat toeroet mentjapai kemenangan achir dalam Perang Soetji merobohkan imperialis Sekoetoe oentoek selama-lamanja… karena itoe mengembalikan keboedajaan Timoer di Indonesia ialah keperloean dan pekerdjaan jang amat sangat pentingnja”.

Dari himbauan di atas dapat ditilik bahwa Sanusi Pane sangat memperdulikan nasib bangsa Indonesia dengan melalui kebudayaan. Indonesia memiliki kebudayaan Timur yang khas dan tak sepatutnya imperialisme barat menggantikan asas gotong royong yang nampaknya sudah menggerogoti masyarakat di desa-desa maupun di kota-kota. Pada karya-karyanya, Sanusi Pane menginginkan kejayaan pada masa lampau (kerajaan), yang hidup dalam ketentraman, kedamaian, dan kemakmuran.

Jiwa nasionalismenya juga terlihat antara lain dari pernyataan Sanusi Pane tentang akan dibentuknya perhimpunan pemuda-pemuda Batak yang kemudian disepakati bernama Jong Bataks Bond. Sanusi Pane menyatakan:

“Tiada satu pun di antara kedua pihak berhak mencaci maki pihak lainnya oleh karena dengan demikian berarti bahwa kita menghormati jiwa suatu bangsa yang sedang menunjukkan sikapnya.”

Dalam naskah itu, Sanusi Pane menyampaikan gagasannya bahwa perhimpunan bagi pemuda-pemuda Batak bukan berarti upaya pembongkaran terhadap Jong Sumateranen Bond (JSB). Tetapi sebaliknya, menumbuhkan persaudaraan dan persatuan orangorang Sumatera. Karena itu, Sanusi Pane mengingatkan agar tak ada caci maki antara kedua belah pihak. Semua harus saling menghargai dan menghormati sebagai sesama bangsa, lebih-lebih sebagai sesama Sumatera. Seperti yang ada ditulisan Sanusi Pane yang berjudul “JSB – JBB”, Jong Batak, Januari 1916 antara lain sebagai berikut :

“ Hubungan antara JSB dan JBB telah merupakan suatu masalah yang sukar untuk diselesaikan. Dalam usaha untuk menyelesaikan persengketaan yang semakin meruncing di antara para pemuda Sumatra ini telah lama terbentur kepada kesukarankesukaran yang timbul karena tiadanya saling pengertian dan penghargaan di antara sesamanya. Secara pribadi, baik secara resmi maupun tidak resmi, kami telah bekerja tanpa mencapai hasil yang dibanggakan”.

Selain hal tersebut, kesadaran nasional Sanusi Pane juga terlihat dalam bukunya buku-buku sejarahnya, yakni Sejarah Indonesia I dan Sejarah Indonesia II. Kecintaannya akan kejayaan masa lampau Indonesia terangkum apik dalam buku-buku sejarah.

“Umumnya ilmu membawa kita dari soal yang satu kepada jang lain. Dalam melakukan ilmu, jaitu dalam mempergunakan ilmu untuk keperluan kentara, pengiraan dapat diwujudkan djadi penentuan. Demikian pula halnja dengan ilmu sedjarah. Karena itu buku ilmu sedjarah senantiasa penuntun kepada soal-soal ilmu sedjarah”.

Dengan buku sejarah yang ditulis Sanusi Pane, Sanusi menginginkan agar para pembaca berjuang mewujudkan kesadaran akan pentingnya menghargai ilmu sejarah. Karena ilmu sejarah sendiri merupakan ikhtisar mengetahui kehendak Tuhan itu, yang berwujud dalam kumpulan hal-hal alam, jenis, semangat dan masyarakat. Sejarah merupakan perjalanan wujud kehendak Tuhan bagi manusia dalam dunia yang relatif. Seperti pernyataan Sanusi Pane berikut.

“…bahwa ilmu sedjarah selamanja relatief, berbatas harganja, terikat kepada semangat zaman, sebab kita tidak dapat keluar dari zaman kita sendiri. Dengan begitu sedjarah ialah pemandangan jang silam terus menerus berobah dari masa kemasa”.

Pemikiran Sanusi Pane Mengenai Kebudayan Nasional

Kebudayaan sebagai hasil cipta, rasa dan karsa manusia yang digunakan untuk menghadapi lingkungan manusia itu hidup. Menurut E.B. Tylor, kebudayaan atau peradaban adalah keseluruhan yang kompleks, di dalamnya terdapat ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum adat istiadat dan kemampuan–kemampuan yang lain serta kebiasaan yang didapat manusia sebagai anggota masyarakat. Kata kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yakni budhayah, bentuk jamak dari budhi. Budaya artinya akal, sehingga kebudayaan diartikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan akal atau budi.
Kebudayaan bangsa Indonesia ialah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budinya rakyat Indonesia seluruhnya. Kebudayaan lama dan asli yang telah terdapat sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah-daerah seluruh Indonesia terhitung sebagai kebudayaan bangsa. Bahasa Indonesia merupakan salah satu unsur kebudayaan dan memiliki peranan penting dalam memperkaya kebudayaan nasional, yang juga berfungsi sebagai alat kumunikasi antar suku bangsa, sehingga bahasa Indonesia merupakan alat pemersatu, seperti yang tercantum dalam Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi, bahasa negara ialah bahasa Indonesia.

Sanusi Pane menyatakan bahwa Kebudayaan Nasional Indonesia sebagai kebudayaan timur, harus mementingkan unsur-unsur kerohanian, perasaan, dan gotong royong dan manusia Indonesia tidak boleh melupakan alur sejarahnya. Sanusi Pane juga mendefinisikan kebudayaan sebagai pusat kehidupan dan gerakan manusia. Pusat tersebut itu ada pertaliannya dengan segala cabang masyarakat dan kemakmuran suatu negeri bergantung kepada kebudayaannya.

Kebudayaan ataupun seni merupakan permasalahan yang menarik untuk disorot. Berbagai pemikiran pun bermunculan. Seperti halnya Sanusi Pane, ia menyatakan “seni untuk seni” (l’art pour l’art) yang mengutamakan bentuk sebagai salah satu kriteria penting dalam puisi.

Sanusi Pane menolak seni yang diabdikan kepada pembangunan bangsa dan sampai kepada penerimaan “seni untuk seni”. Namun, penerimaan seni untuk seni bukanlah sama dengan semboyan para individualis Barat, namun dihubungkan dengan filsafat “unio-mistika”, seperti yang dikatakannya :

“Orang yang menuju unio-mistika dalam jagat besar dengan sendirinya harus menuju kolektivisme. Perasaan bersatu dengan jiwa dunia yang memancar dalam dunia kecil sebagai perasaan bersatu dengan kemanusiaan”.

Sanusi Pane mendasari sikap nasionalisme kebudayaannya dengan menyatakan bahwa sumber utama kesusastraan baru terdapat pada akar-akar kebudayaan tradisonalnya. Landasan Indonesia sudah ada, yang mendasari asimilasi semua pengaruh asing, baik yang datang dari Timur maupun Barat.
Sanusi Pane mengemukakan konsep kebudayaan sebagai berikut :

  1. Tingkat tertinggi lapangan kebudayaan terdapat di Indonesia dan India, yakni lapisan berpusat kepada mistik, yakni manusia bersatu dengan alam dan meniadakan keinginan jasmaninya dan membersihkan jiwanya.
  2. Barat menonjolkan jasmani, sehingga lupa jiwa. Akal dipakai menaklukkan alam. Ia seperti Faust, ahli pengetahuan yang mengobarkan jiwanya, sehingga lupa akan jasmani. Ia bersifat Arjuna yang bertapa di Indrakila. Haluan yang sempurna ialah menyatukan Faust dengan Arjuna, memesrakan materialism, intelektualisme dan individualism dengan spiritualisme, perasaan dan kolektivisme.
  3. Kita mewujudkan kebudayaan baru, atas dasar ramuan Timur yang silam disertai dengan ramuan Barat yang modern.

Kalau dikatakan bahwa S. Takdir Alisjahbana adalah pengagum kebudayaan Barat, Sanusi Pane dapat dikatakan pengagum kebudayaan Timur atau lebih baik filsafat Timur seperti terwujud pada filsafat India. Sanusi pane menerima dan mengagumi kebudayaan India, Sanusi Pane pun menyenangi kebudayaan Barat dan dia mengadakan sintese antara Timur dan Barat, seperti yang terangkum dalam dramanya yang terakhir, Manusia Baru.

Menurut Sanusi Pane, kebudayaan barat yang mengutamakan intelektualitas untuk kehidupan jasmani tidak dengan sendirinya istimewa karena terbentuk oleh tantangan alam yang keras sehingga orang berfikir dan bekerja keras. Sementara itu, kebudayaan timur pun memiliki keunggulan yaitu mengutamakan kehidupan rohani karena kehidupan jasmani telah dimanjakan oleh alam yang serba memberikan kemudahan. Oleh karena itu , kebudayaan Indonesia baru dapat dibentuk dengan mempertemukan semangat intelektualitas barat dengan semangat kerohanian Timur. Seperti yang dikatakan Sanusi Pane dalam sebuah esei :

“… harus diingat, supaya kita jangan sesat dalam soal Timur dan Barat. Supaya soal itu lebih jelas lagi. Harus kita ingat pula bahwa kebudayaan bergantung kepada alam dan kebangsaan. Karena itu kebudayaan internasional yang rata tidak akan tercapai dan semboyan yang menganjurkan kebudayaan yang demikian berbahayanya berlawanan dengan kodrat alam. Dalam beberapa abad yang lalu ini Barat sangat meruncingkan individualism, materialism, positivism, sehingga kerohaniannya, semangatnya, pikirannya dan masyarakatnya kacau balau. Dari zat-zat kebudayaan itu timbul pula imperialism : Barat menguasai Timur sebagian besar”.

PENUTUP

Pemikiran Sanusi Pane mengenai kesadaran nasional dan kebudayaan semarak terangkum dalam karya-karya sastranya, yang meliputi puisi, naskah drama dan esei. Sanusi pane berpendapat bahwa keindonesiaan itu sudah ada sejak sekian abad yang silam dalam adat dan seni. Yang belum terbentuk adalah natie atau bangsa Indonesia, tetapi perasaan kebangsaan itu sebenarnya sudah ada. Kesadaran nasional Sanusi Pane diwujudkan ke dalam berbagai bentuk, seperti yang termaktub dalam sajaknya Candi, Sumpah Sakti, Marhaen, Bertemu dan Teratai. Sanusi Pane mencoba menumbuhkan cinta tanah air melalui kenangan kepada sejarah di masa lalu. Dengan cara demikian pujangga ini menyadarkan bangsa Indonesia untuk mencintai tanah airnya, menumbuhkan kesadaran nasional agar senantiasa terkenang kepada sejarah bangsanya di masa silam.

Sanusi mengagumi kejayaan masa lampau Indonesia yang gemilang, oleh sebab itu karya sastra yang dihasilkan Sanusi Pane sangat khas. Naskah drama yang ditulis Sanusi Pane selalu bersumber dari sejarah seperti Kertajaya dan Sandyakalaning Majapahit.

Pemikiran Sanusi Pane tentang kebudayaan nasional juga tersirat jelas dalam eseinya yang termuat di majalah Djawa Baroe yang berjudul Mengembalikan Keboedajaan Timoer. Dalam esei tersebut Sanusi Pane menghimbau, agar bangsa Indonesia kembali kepada kebudayaan timur dan jangan lagi diperbudak oleh imperialisme barat (Belanda), karena imperialisme yang dibawa oleh bangsa Belanda telah memporak-porandakan kebudayaan asli bangsa timur khususnya Indonesia yakni kebudayaan tolong-menolong dan bergotong-royong yang pada masa itu telah pudar.

Sumber: EJournal Avatara