Penulis: Subagio Sastrowardoyo

  • Leiden 3/10/78 (PAGI)

    di kamar penginapanyang dindingnya belum selesai di kapurtubuhku lelahtetap tersalib di papan pembaringannasib masih terkapar di luar pintuyang tak selalu tertutupudara kelamtenggelam dalam kabut kenanganhanya kata-katamenolong dari kekalutan setiap berhentiangan terganggu wajah kosong mengerikanpesan rahasiatergesa terhapus dari ingatandi sela-sela kataterus membersit kegetiran di balik dalih bicaraluka di dada menganga (dalam buku Hari dan Hara, 1982)

  • Mengapa Saya Menulis Sajak

    Bagi sementara penulis amat sukarlah untuk berbicara tentang diri sendiri, baik mengenai perkembangan tugasnya menulis maupun tentang alasan-alasan di balik tulisannya. Sebab kesukaran itu harus dicari pada keseganan untuk memperlihatkan terlalu banyak kelemahan sendiri, yakni perjuangan yang hampir sia-sia hendak menyelesaikan sesuatu dengan baik. Dan saya tergolong pada penulis-penulis demikian itu. Mungkin belum cukup matang […]

  • Keroncong Motinggo

    IPerempuan yang mengatupkan mataBiarkan lampu kamar menyalaSelama kita bercintaTubuh kita yang telanjangharus kita hadapi denganmata nyalang Dalam bercumbukita kembali seperti dulusebelum mengenal malu Ada tahilalat di pundakmuMari kukecupTapi nyalakan mata IIApakah besokCinta hanya tahu hari kiniIkutilah denyutYang membawa kita berhanyutdari kamar ke kamarSetiap ruang samar adalah perlindunganbuat menghalalkan perkosaanDi mana berhentiO, biar dunia tenggelamdalam darahnya […]

  • Daerah Perbatasan

    IKita selalu berada di daerah perbatasanantara menang dan mati. Tak boleh lagiada kebimbangan memilih keputusan:Adakah kita mau merdeka atau dijajah lagi.Kemerdekaan berarti keselamatan dan bahagia,Juga kehormatan bagi manusiadan keturunan. Atau kita menyerah sajakepada kehinaan dan hidup tak berarti.Lebih baik mati. Mati lebih muliadan kekal daripada seribu tahunterbelenggu dalam penyesalan.Karena itu kita tetap di pos penjagaanatau […]

  • Simphoni

    “Aku tidak bermain bagi babi-babi!”gerutu Beethoven. Kita yang berdiri di tengah abaddi bilang dua puluh dan menyangka harijaditelah tertinggal jauh makin samar:mana asal, mana kejadianmana jumlah, mana kadar makin samar:mana mulia, mana hinamana kemajuan, mana kemunduran. Katakanlah,adakah kemajuankalau kita lebih banyak mendirikanbank dan ruang gudangdari kuil atau masjid kalau kita lebih menimbang kasih orangdengan uang […]